Senin, 07 November 2011

Sepotong Kata Maaf

Siapa orang yang paling rendah derajatnya?
“Orang yang tidak percaya pada siapa pun dan tidak dipercaya oleh siapa pun.”
Dan siapakah yang lebih rendah daripada itu?
”Orang yang dimintai maaf tapi tidak mau memaafkan.”
-Sokrates-

Maaf. Mudah diucapkan tetapi tidak mudah untuk diterapkan.
Tidak ada manusia yang tidak pernah melakukan kesalahan. Tetapi, apa yang anda lakukan setelah anda tahu bahwa anda melakukan kesalahan? Terutama bila kesalahan tersebut melukai hati orang lain? Idealnya adalah meminta maaf.

Soal meminta maaf ini ada cerita unik dari seorang teman. Anaknya yang masih berusia 5 tahun akan sangat marah apabila ada temannya yang menurut dia melakukan kesalahan, tetapi tidak meminta maaf. Bahkan, menurut cerita teman ini, anaknya akan mengejar-ngejar temannya yang telah melakukan kesalahan tersebut untuk ‘sekedar’ meminta maaf. Begitu pula bila Bunda atau Ayahnya melakukan kesalahan, maka hal pertama kali yang dia tuntut adalah kata ‘maaf’ dari Bunda atau Ayahnya, setelah itu persoalan akan selesai. Dan dia akan bergembira ria lagi.

Cerita tersebut tidak jauh berbeda dengan cerita anak saya.
Sewaktu anak saya masih bersekolah taman kanak-kanak, saya heran melihatnya akrab dengan seorang anak yang boleh dibilang agak usil dan jahil bahkan sering menjahili anak saya dalam batas kewajaran anak-anak. Dan hal ini selalu disampaikannya kepada saya setiap hari sepulang sekolah. Yang katanya si A makan donat bekalnya tanpa permisi, yang katanya si A menyembunyikan sepatunya, yang katanya si A mematahkan pensilnya, yang katanya si A menghabiskan air minumnya setelah berolah raga, yang katanya si A menubruknya dari belakang hingga terjatuh, .....pokoknya selalu ada keusilan-keusilan kecil yang dilakukan si A terhadap anak saya ini.

Tetapi, bagaimana saya tidak heran, karena walaupun cerita tentang keusilan si A selalu ada, namun setiap kali selalu saya lihat teman bermainnya adalah si A tadi.
Tidak tahan dengan keheranan saya sendiri, akhirnya saya bertanya kepada anak saya, ”Sayang, kata kamu si A itu suka usilin kamu, kok kamu mainnya sama si A terus, malahan bersahabat, kenapa?”
Dengan polos anak saya menjawab, ”Karena, setiap kali habis usil, si A selalu minta maaf, Ma.”
Oh! Saya tidak punya kata-kata lagi.

Begitu berartinya sebuah kata ”Maaf”, begitu saktinya sebuah kata ”Maaf” sehingga mampu mencairkan semua kekesalan, kemarahan dan kesedihan.....
Bahkan mampu membuat kedua orang semakin akrab bersahabat.
(Sampai sekarang -anak saya kelas 2 SD-, kalau ditanya tentang teman TK, maka nama yang akan keluar pertama kali adalah si A tadi)

Kalau begitu, memang benar kata pepatah :
Forgiveness does not change the past, but it does enlarge the future. (Paul Boese)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar